
Media Sosial dan Brain Rot, Ancaman Nyata atau Evolusi Digital?
Sering scrolling media sosial, cuma kebiasaan santai atau malah jadi ancaman buat otak kita? Istilah media sosial dan brain rot mungkin terdengar seperti lelucon, tapi nyatanya, banyak dari kita sering merasa otak “penuh” karena menyerap begitu banyak informasi, tapi nggak ada yang benar-benar bermanfaat.
Kebiasaan seperti doomscrolling, di mana kamu terus menggulir layar tanpa henti, membuat otak kelelahan, fokus berantakan, dan bahkan memicu stres. Apalagi kalau yang dikonsumsi hanya konten ringan atau sensasional. Jadi, bagaimana media sosial memengaruhi otak kita? Apa benar ada dampak buruknya, atau ini cuma bagian dari evolusi digital?
Di blog ini, kita akan bahas dampak negatif dari penggunaan media sosial, seperti fenomena doomscrolling dan brain rot. Selain itu, kita juga akan membahas bagaimana kita bisa memanfaatkan digital detox untuk menjaga kesehatan otak.
Yuk, cari tahu cara bijak menggunakan media sosial agar tetap cerdas tanpa jadi “korban”.
Apa Itu Brain Rot?
Topik tentang media sosial dan brain rot kerap diidentikkan dengan perkembangan tren masa kini. Namun, gagasan tentang brain rot sudah ada sejak tahun 1854, ketika Henry David Thoreau, seorang filsuf Amerika, mengkritik “pembusukan otak” akibat kemalasan intelektual. Ia menggambarkan bagaimana masyarakat lebih memilih gagasan dangkal daripada ide yang kompleks dan mendalam. Di era digital saat ini, konsep tersebut kembali mencuat sebagai cerminan dampak konsumsi konten media sosial yang tidak berkualitas.
Kepopuleran ini semakin meningkat setelah media sosial dan brain rot menjadi sorotan, dengan istilah “brain rot” dinobatkan sebagai “Oxford Word of the Year 2024” oleh Oxford University Press. Di platform seperti TikTok, fenomena doomscrolling dan brain rot juga ramai dibicarakan, khususnya di kalangan Gen-Z dan Gen-Alpha. Tidak heran jika istilah ini kini digunakan di berbagai media arus utama, mencerminkan kekhawatiran masyarakat tentang bagaimana media sosial memengaruhi otak.

Fenomena Doomscrolling dan Brain Rot.jpg (Foto: Shutterstock)
Dampak Negatif Media Sosial pada Otak, adalah Sebuah Peringatan!
Media sosial dan gejala brain rot atau “pembusukan otak” menjadi topik penting di zaman teknologi ini. Bahkan, studi dari Universitas Islam Sumatera Utara menunjukkan kebiasaan ini dapat meningkatkan kecemasan, terutama di kalangan mahasiswa. Konten negatif yang mudah diakses membanjiri otak dengan informasi yang melelahkan.

Dampak Negatif Media Sosial pada Otak.jpg (Foto: Freepik)
Lebih dari itu, tekanan sosial yang sering muncul dari media sosial juga bisa menjadi ancaman serius bagi kesehatan mental. Paparan kehidupan “sempurna” di dunia maya sering membuat banyak orang merasa tidak cukup baik. Media sosial dan brain rot saling terkait dalam hal ini, karena muncul perasaan tidak percaya diri yang diperburuk oleh pola konsumsi konten yang tidak sehat. Jika dibiarkan, ini bisa berakibat lebih serius pada kesehatan mental kita.
Sebenarnya, ada banyak jenis konten yang bisa memicu brain rot. Namun kali ini, melalui infografis berikut, saya hanya akan menyebutkan beberapa yang paling sering muncul dan diminati di media sosial.

5 Konten Media Sosial yang Memicu Brain Rot.jpg (Foto: CANVA.com)
Dengan dampak seperti ini, apakah media sosial hanya membawa efek negatif, atau ada sisi positif yang perlu kita perhatikan?
Baca juga: Logical Fallacy Dalam Perangkap Logika Sehari-hari
Manfaat Media Sosial untuk Kecerdasan Digital
Kamu mungkin sering mendengar bahwa media sosial dan brain rot sering dikaitkan sebagai kombinasi yang merugikan. Tapi, apakah media sosial hanya membawa dampak negatif? Nggak juga! Kenyataannya, jika digunakan dengan bijak, media sosial memiliki potensi besar untuk meningkatkan kecerdasan digital kita.
Media sosial adalah jembatan informasi yang menghubungkan kita dengan pengetahuan dari seluruh dunia yang bisa diakses dengan cepat hanya lewat ponsel. Selain itu, media sosial juga mengajarkan kita untuk berpikir kritis, terutama saat memilah informasi yang benar di tengah banyaknya konten yang berseliweran.

Manfaat Media Sosial untuk Kecerdasan Digital.jpg (Foto: feedingtrends.com)
Bukan cuma soal informasi, media sosial juga membuka ruang untuk membangun hubungan melalui komunitas daring. Komunitas ini menjadi tempat berbagi ide, berkolaborasi, hingga menciptakan inovasi. Kita bisa belajar menjadi lebih empatik, memahami perspektif orang lain, dan memperkuat kemampuan komunikasi kita.
Jadi, daripada hanya melihat sisi negatif dari media sosial dan brain rot, mengapa tidak menggunakannya sebagai alat untuk belajar, berkembang, dan menemukan peluang baru? Dengan cara yang tepat, media sosial bisa menjadi ruang yang memperkaya wawasanmu sekaligus mengasah kemampuan sosial dan digital.
Keseimbangan Media Sosial Antara Brain Rot dan Evolusi Digital
Kunci utama agar media sosial tetap bermanfaat adalah keseimbangan. Media sosial kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Tetapi, apakah penggunaannya hanya memicu brain rot, atau justru mendukung evolusi digital yang lebih baik? Banyak yang percaya bahwa media sosial membawa dampak buruk bagi kesehatan mental. Di sisi lain, ada yang melihatnya sebagai alat penting untuk meningkatkan literasi digital. Kedua pandangan ini memicu diskusi menarik di era modern.
Pengaruh media sosial pada otak tergantung usia dan pola penggunaan. Anak-anak rentan mengalami gangguan perkembangan bahasa jika terlalu lama terpapar layar, sedangkan remaja mungkin menghadapi tantangan emosi akibat interaksi daring. Sebaliknya, orang dewasa dan lansia bisa menjaga fungsi kognitif jika menggunakan media digital dengan bijak.
Untuk menemukan keseimbangan, digital detox bisa jadi solusi efektif. Mengurangi waktu layar, beraktivitas fisik, atau sekadar menikmati alam dapat mengembalikan kesehatan mental. Penting juga mengelola waktu di media sosial dengan bijak, memanfaatkan platform ini untuk hal positif, dan menghindari doomscrolling.

Digital Detox.jpg (Foto: feedingtrends.com)
Media sosial dan brain rot bukanlah dua hal yang sepenuhnya bertentangan. Dengan pendekatan yang tepat, teknologi bisa mendukung kecerdasan digital tanpa mengorbankan kesehatan otak. Pilihan ada di tangan kita: mengarahkan media sosial menjadi alat produktif atau penyebab kelelahan mental.
Baca juga: Jumping to Conclusions atau Berpikir Kritis, Pilih Mana?
Kesimpulan: Media Sosial, Tantangan atau Peluang?
Media sosial memang punya dua sisi. Di satu sisi, jika digunakan tanpa kontrol, kita bisa terjebak dalam fenomena doomscrolling dan brain rot yang berakibat buruk pada kesehatan mental dan produktivitas. Tapi di sisi lain, media sosial juga bisa menjadi alat untuk belajar, berkembang, dan membangun koneksi yang berarti.
Solusinya? Gunakan media sosial dengan cerdas. Dengan membatasi waktu penggunaan, memilah konten yang dikonsumsi, dan sesekali melakukan digital detox, kita bisa memanfaatkan teknologi tanpa harus menjadi korban algoritma.
Jadi, yuk ambil kendali! Manfaatkan media sosial untuk sesuatu yang positif, dan hindari jebakan yang bisa merugikan otak kita.
Referensi
- Oxford University Press, 2024. “Brain rot’ named Oxford Word of the Year 2024”. Diakses melalui: https://corp.oup.com/news/brain-rot-named-oxford-word-of-the-year-2024/
- Asian Journal of Healthy and Science, 2024. “The Relationship of Doomscrolling with Anxiety in Students of the Faculty of Medicine, Islamic University of North Sumatra”. Diakses melalui: https://ajhsjournal.ph/index.php/gp/article/view/113
- Kemenkes – Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, 2022. “Ketahui Dampak Negatif Media Sosial Bagi Kesehatan Mental”. Diakses melalui: https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1108/ketahui-dampak-negatif-media-sosial-bagi-kesehatan-mental
- ResearchGate, 2024. “Social Intelligence and Social Media”. Diakses melalui: https://www.researchgate.net/publication/379934950_Social_Intelligence_and_Social_Media
- National Library of Medicine. “The impact of the digital revolution on human brain and behavior: where do we stand?”. Diakses melalui: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC7366944/

